Rabu, 01 Agustus 2012

jadi, kapan kau akan kembali?

Sudah lama engga meposting tulisan diblog, aku sibuk dengan perkuliahan yang setiap hari selalu saja ada tugas ditambah lagi kemarin ada semester pendek.

Ternyata sekarang sudah memasuki bulan ramadan, bulan yang penuh berkah. Entah mengapa di awal bulan kemarin jemari ini dengan sendirinya mengirimkan ucapan maaf untukmu, iya untukmu wanita berambut panjang. Aku tak menyangka jika rangkaian-rangkaian katamu memunculkan rasa lagi yang hampir hilang. Sejujurnya waktu itu aku sedang dekat dengan seseorang, tapi aku dengan perlahan menjauhinya, aku tak inging dia benar-benar jatuh cinta dan dibayangi oleh bayang-bayangmu...

Hari anniversarry kamu? "Happy anniversarry yaa, semoga ....................................... (isi sendiri jika kamu membaca tulisan ini) Amin
Aku tidak berdoa supaya kamu cepat berakhir bersamanya tapi aku selalu berdoa supaya cepatlah pulang kerumahmu, rumahmu adalah hatiku :)

Aku rindu denganmu, apakah kamu merasakannya juga ? Kalau bagimu merindukanku adalah hal yang berat, harusnya kau mencoba bagaimana caraku merindukanmu. Kau adalah matahariku yang menghangatkan pagiku, dan bulan yang menerangi selama tidur malamku. Tak bosan aku merapalmu dalam doa-doaku, berusaha mengetuk hati Tuhan supaya berbaik hati mengirimkanmu untukku...

Tak perlulah kamu tahu berapa banyak air mata yang membasahi bantal saat khayalku terbawa dalam kenangan tentangmu. Dan, akupun tak ingin kamu ikut sedih ketika tahu betapa dinginnya hari-hari tanpa senyummu...

Jadi, beri tahu aku kapan kau akan kembali? Atau, haruskah aku lagi-lagi menggagu Tuhan sampai dia mengabulkan permintaanku?

Rabu, 13 Juni 2012

Hujan rindu dalam hujan


Dalam hujan, birkan rindu mengeram dalam kesakitannya.
Dalam hujan, biarkan rindu menari-nari.
Dalam hujan, biarkan rindu menyudahi kuyup lelahnya menanti perjumpaan.
Dalam hujan, berikan rindu ruang untuk menyetubuhi kesepian.
Sekian ~

Apa yang salah dengan hujan ?


Sebagian orang berkata, "Ah hujan datang lagi"
Lalu orang lain menanggapinya, "Ya, ini kan musim kemarau. Kenapa egois sekali hujan tetap turun?"
Hujan bukannya tak mendengar keluhan-keluhan itu. Hujan sangat mengerti, tapi ia turun ke bumi atas perintah awan. Awan bukannya tak mendengar jeritan-jeritan itu. Awan hanya sedang penuh, lalu ia tumpahkan titik demi titik yang bersatu menjadi hujan.
Tumbuhan hijau girang. Namun tak semua, terkadang ada yang tenggelam hingga mati. Buruh tani yang susah payah dan berpeluh mencoba membangun kehidupan padi, beberapa sempat terendam.
Sekarang siapa yang bingung ? Hujan datang mereka berteriak repot. Hujan hilang mereka berteriak haus. Tuhan hanya tersenyum, seakan mengerti mahluk-mahlukNya sedang gusar.
Hidup memang selalu memiliki pilihan, dan tak semuanya menguntungkan. 

Minggu, 03 Juni 2012

Tentang Hujan

selalu dan selalu aku berkata hujanku memiliki banyak rintik. nyatanya memang begitu. itu alasanku mencintai hujan.

aku tak mempunyai alasan spesifik tentang hujanku. itu tentang hati, hanya aku dan hujan saja yang tahu. kurasa memang tak penting kau tahu, mereka tahu, atau siapa saja yang ingin tahu. itu masalah besar untukku.

hujan itu indah. aku tak pernah menolaknya dengan payung atau pun mantel hujan saat ia datang. ia hebat, aku segar olehnya ketika aku gerah menghirup udara nitrogen ditengah kesibukan jalanan kota kecil ini. tiap rintiknya mampu mengalahkan fatamorgana air yang berpura-pura menghiasi jalanan aspal diantara teriknya siang.

hujanku memang memiliki titik-titik air ditiap waktunya, namun yang kucinta bukan itu. yang kucinta adalah sebuah nama tentang hujan. ceritaku tentang hujan selalu indah untuk kupikirkan, bukan untukku kenang, karena memang hujanku takkan pernah mati. hujanlah yang akan mengingatkan akan kenangan yang mungkin telah kita lupakan.

aku mencintai hujan bukan untuk cerita fiksi belaka. aku nyata mencintainya. namun memang tak pernah ada subjek yang spesifik untuk sebuah hujan yang kucinta.


Minggu, 06 Mei 2012

Tulisan Cerdas Tentang Teh


A Nice Cup of Tea
oleh George Orwell
Sabtu Esai, Evening Standard, 12 Januari 1946


Jika Anda mencari 'teh' dalam buku masakan pertama yang datang ke tangan Anda mungkin akan menemukan bahwa itu adalah tidak disebutkan; atau paling banyak Anda akan menemukan beberapa baris instruksi lengkap yang memberikan keputusan tidak pada beberapa poin yang paling penting.

Ini aneh, bukan hanya karena teh adalah salah satu yang tetap utama peradaban di negara ini, serta dalam Eire, Australia dan Selandia Baru, tetapi karena cara terbaik untuk membuat itu adalah subjek sengketa kekerasan.

Ketika saya melihat melalui resep saya sendiri untuk secangkir teh yang sempurna, saya menemukan tidak kurang dari sebelas poin yang luar biasa. Pada mungkin dua dari mereka akan ada cukup kesepakatan umum, tapi setidaknya empat orang lainnya adalah akut kontroversial. Berikut adalah saya sendiri sebelas aturan, setiap salah satu yang saya anggap sebagai emas:

Pertama-tama, orang harus menggunakan teh India atau Sri Lanka. Cina teh memiliki kebajikan yang tidak akan dipandang rendah saat ini - itu adalah ekonomis, dan satu dapat meminumnya tanpa susu - tetapi tidak ada rangsangan banyak di dalamnya.Orang tidak merasa lebih bijaksana, lebih berani atau lebih optimis setelah meminumnya. Siapapun yang telah digunakan yang 'secangkir teh' frase nyaman selalu berarti teh India.

Kedua, teh harus dibuat dalam jumlah kecil - yaitu, dalam teko. Teh dari kendi selalu hambar, sementara tentara teh, dibuat dalam kuali, selera minyak dan kapur. Teko harus terbuat dari porselen atau gerabah. Silver atau Britannia-ware teko menghasilkan teh inferior dan pot enamel lebih buruk, meskipun cukup aneh sebuah teko timah (jarang saat ini) tidak begitu buruk.

Ketiga, pot perlu dihangatkan terlebih dahulu. Hal ini lebih baik dilakukan dengan menempatkannya di atas kompor daripada metode biasa swilling keluar dengan air panas.

Keempat, teh harus kuat. Untuk pot memegang liter, jika Anda akan mengisinya hampir sampai penuh, enam sendok teh menumpuk akan menjadi sekitar benar. Dalam waktu penjatahan, ini bukan sebuah ide yang dapat direalisasikan pada setiap hari dalam seminggu, tapi saya berpendapat bahwa satu cangkir teh yang kuat lebih baik dari dua puluh yang lemah. Semua benar teh pecinta tidak hanya seperti teh kuat mereka, tapi seperti itu sedikit lebih kuat dengan setiap tahun yang berlalu - sebuah fakta yang diakui dalam ransum tambahan yang dikeluarkan untuk hari tua pensiunan.

Kelima, teh harus diletakkan langsung ke dalam panci. Tidak ada saringan, tas kain muslin atau perangkat lain untuk memenjarakan teh. Di beberapa negara teko dilengkapi dengan keranjang menggantung sedikit di bawah cerat untuk menangkap daun liar, yang seharusnya berbahaya. Sebenarnya seseorang dapat menelan daun teh dalam jumlah yang cukup tanpa efek sakit, dan jika teh tidak longgar dalam pot tidak pernah menanamkan dengan benar.

Keenam, orang harus mengambil teko untuk ketel dan bukan sebaliknya sekitar. Airnya haruslah benar-benar mendidih pada saat dampak, yang berarti bahwa seseorang harus tetap di api sementara satu menuangkan. Beberapa orang menambahkan bahwa satu-satunya harus menggunakan air yang telah baru saja dibawa ke mendidih, tapi saya tidak pernah menyadari bahwa itu membuat perbedaan apapun.
Ketujuh, setelah membuat teh, orang harus aduk, atau lebih baik, memberikan pot goyang baik, setelah itu memungkinkan daun untuk menetap.

Kedelapan, orang harus minum dari cangkir sarapan yang baik - yaitu, jenis silinder cangkir, bukan tipe datar, dangkal. Cangkir sarapan memegang lebih, dan dengan teh yang jenis lain adalah selalu setengah dingin - sebelum seseorang telah baik mulai di atasnya.

Kesembilan, orang harus tuangkan krim dari susu sebelum menggunakannya untuk minum teh. Susu yang terlalu kental selalu memberikan teh rasa sakit-sakitan.

Kesepuluh, orang harus menuangkan teh ke dalam cangkir pertama. Ini adalah salah satu poin yang paling kontroversial dari semua, memang dalam setiap keluarga di Inggris mungkin ada dua aliran pemikiran pada subjek.

Sekolah susu pertama dapat membawa ke depan beberapa argumen yang cukup kuat, tapi saya tetap bahwa argumen saya sendiri tidak terjawab. Ini adalah bahwa, dengan meletakkan teh di pertama dan aduk sebagai salah menuangkan, salah satu justru dapat mengatur jumlah susu sedangkan satu adalah bertanggung jawab untuk dimasukkan ke dalam susu terlalu banyak jika seseorang itu sebaliknya.

Terakhir, teh - kecuali seseorang meminumnya dalam gaya Rusia - harus diminum tanpa gula. Saya tahu betul bahwa saya minoritas di sini. Tapi tetap, bagaimana Anda bisa menyebut diri Anda seorang kekasih teh-benar jika Anda menghancurkan rasa teh Anda dengan menempatkan gula di dalamnya? Ini akan sama-sama masuk akal untuk dimasukkan ke dalam merica atau garam.

Teh ini dimaksudkan untuk menjadi pahit, seperti bir ini dimaksudkan untuk menjadi pahit. Jika Anda mempermanis, Anda tidak lagi mencicipi teh, Anda hanya mencicipi gula, Anda bisa membuat minuman yang sangat mirip dengan melarutkan gula dalam air panas biasa.

Beberapa orang akan menjawab bahwa mereka tidak suka teh dalam dirinya sendiri, bahwa mereka hanya meminumnya untuk dihangatkan dan merangsang, dan mereka membutuhkan gula untuk terbiasa dengan rasanya pergi. Untuk orang-orang sesat saya akan mengatakan: Cobalah minum teh tanpa gula untuk, misalnya, dua minggu dan sangat tidak mungkin bahwa Anda akan pernah ingin merusak teh Anda dengan pemanis lagi.
Ini bukan hanya poin kontroversial timbul sehubungan dengan minum teh, tetapi mereka cukup untuk menunjukkan bagaimana subtilised seluruh bisnis telah menjadi.

Ada juga etiket sosial misterius sekitarnya teko (mengapa dianggap vulgar untuk minum dari piring Anda, misalnya?) Dan mungkin banyak menulis tentang anak perusahaan menggunakan dari tealeaves, seperti meramal, memprediksi kedatangan pengunjung, makan kelinci, menyembuhkan luka bakar dan menyapu karpet.

Ini adalah perhatian membayar layak untuk rincian seperti pemanasan panci dan menggunakan air yang benar-benar mendidih, sehingga membuat yakin dari luar meremas-remas ransum seseorang dua puluh baik, cangkir kuat bahwa dua ons, ditangani dengan benar, seharusnya untuk mewakili.

Diatas itu adalah terjemahannya dan link tulisan aslinya klik disini

ini adalah tweet saya tentang teh buatan ibu :D






Kamis, 19 April 2012

Kultum LSP (tidak dibolehkan bicara saat khutbah berlangsung)


Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga terlimpah untuk Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya.
Saat khutbah Jum’at disampaikan, bagi jamaah shalat Jum’at wajib diam mendengarkannya dengan seksama. Barangsiapa berbicara sendiri yang memalingkan dari memperhatikan khutbah maka sia-sialah shalat Jum’at yang dikerjakannya.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallaahu 'anhu, Nabishallallaahu 'alaihi wasallam bersabda,

إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ أَنْصِتْ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَدْ لَغَوْتَ
Apabila engkau berkata kepada saudaramu pada hari Jum’at, ‘diamlah!’ sementara imam sedang berkhutbah, maka sungguh engkau telah berbuat sia-sia.” (HR. Bukhari dan Muslim serta yang lainnya)

Al-Hafidh Ibnu Hajar dalam Fathul Baari berkata, "Dalam hadits ini, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam telah menetapkan bahwa memerintahkan diam saat khutbah adalah bentuklahwun (perbuatan sia-sia), walaupun bentuknya perintah yang ma'ruf dan melarang dari yang munkar. Hadits ini juga menunjukkan bahwa setiap perkataan yang mengganggu dari mendengarkan khutbah, hukumnya lahwun. Dan bila ingin memerintahkan diam orang yang bicara, dengan isyarat."
Beliau menambahkan, “Hadits di atas dijadikan dalil larangan terhadap seluruh macam perkataan pada saat khutbah, dan demikian itu pendapat mayoritas ulama terhadap orang yang mendengarkan khutbah.”

Diriwayatkan dari Abu Darda’ radhiyallaahu 'anhu berkata, “Suatu hari Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam duduk di atas mimbar, lalu beliau berkhutbah di hadapan manusia dan membaca sebuah ayat. Di sampingku ada Ubay. Aku bertanya kepadanya, “Wahai Ubay, kapan ayat ini diturunkan?” Dia tidak mau berbicara kepadaku. Lalu aku bertanya lagi kepadanya, tapi dia tetap tidak mau berbicara kepadaku.

Ketika Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam sudah turun barulah Ubay berkata kepadanya, “Engkau tidak mendapatkan dari Jum’atanmu kecuali kesia-siaan.” Maka ketika Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bertolak, aku (Abu Darda’) mendatanginya, lalu aku beritahukan perihal tadi. Kemudian Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda, “Ubay benar, Apabila engkau mendengar imammu berkhutbah, diamlah engkau sehingga dia selesai.” (HR. Ibnu Majah dan Ahmad dalam al-Musnad no. 21627 dan 21184 yang oleh muhaqqiqnya Al-Zain dinyatakan isnadnya shahih)

Ibnu Abdilbarr rahimahullaah berkata, “Tidak ada perbedaan pendapat di antara fuqaha’ negeri tentang wajibnya diam memperhatikan khutbah bagi orang yang mendengarnya,” (Al-Istidzkar: 5/43). Tetapi setelah itu disebutkan adanya perbedaan pendapat di kalangan sebagian mutaakhirin, namun itu tidak dianggap sebagai perbedaan yang diakui karena menyelisihi nash-nash yang sharih. Sebagaimana yang disebutkan dalam madzhab Syafi’iyah, Inshat (diam mendengarkan khutbah) adalah mustahab dan tidak wajib. Imam Nawawi dalam Al-Majmu’: 4/523 menyebutkan, dalam hukum inshat ini terdapat dua pendapat yang masyhur. Namun yang shahih dalam madzhab ini, bahwa inshat ini mustahab (dianjurkan), tidak wajib. (Al-Majmu’: 4/523)

Terdapat satu riwayat Ahmad dalam al-Mughni (3/194), tidak diharamkan berbicara.
Sedangkan jumhur ulama berpendapat, diharamkan berbicara saat khutbah disampaikan. Dan inshat ketika itu adalah wajib. Sementara madhab Hanafi berpendapat, berbicara saat khutbah makruh tahrim walaupun itu berupa amar ma’ruf, bertasbih, atau yang lainnya. (Al-Bahr al-Raaiq: 2/168)

Dalam kitab al-Mudawwanah disebutkan, “Apabila imam berkhtubah, maka saat itu juga wajib memutus pembicaraan, menghadap kepadanya, dan diam mendengarkannya.” (Mawahib al-Jalil: 2/530)

Jumhur ulama: Diharamkan berbicara saat khutbah disampaikan. Dan inshat (mendengar & mendengarkan khutbah) ketika itu adalah wajib.

Kapan Larangan Berbicara Ini Berlaku?
Sesungguhnya larangan berbicara di sini berlaku pada saat khutbah saja. Karenanya sebelum khutbah dimulai dibolehkan berbicara walaupun imam sudah duduk di atas mimbar. Begitu juga ketika imam sudah mengakhiri khutbahnya, dibolehkan berbicara sebelum shalat dimulai.
Imam Malik meriwayatkan dalam al-Muwatha’, dari Tsa’labah al-Quradzi, mereka pada zaman Umar bin Khathab shalat pada hari Jum’at sehingga Umar keluar. Maka apabila Umar sudah keluar dan duduk di atas mimbar, lalu muadzin mengumandangkan adzan, kami duduk berbincang-bincang. Lalu apabila muadzin diam dan Umar berdiri menyampaikan khutbah, kami semua diam dan tidak seorangpun dari kami yang berbicara.
Ibnu Syihab berkata, “Keluarnya imam memutus shalat, sementara perkataannya memutus perkataan (jama’ah).” (Tanwir al-Hawalik, hal. 125)

Inilah madzhab ‘Atha, Thawus, Bakr al-Muzani, al-Nakha’i, al-Syafi’i, Ishaq, Ya’kub, Muhammad dan juga diriwayatkan dari Ibnu Umar.
Sedangkan berbicara di antara dua khutbah, terdapat dia pendapat. Di dalam al-Mughni disebutkan, al-Hasan al-Bashri membolehkannya. Sementara Malik, al-Syafi’i, al-Auza’i dan Ishaq melarangnya. (Al-Mughni, Ibnu Qudamah: 2/200)

Sebelum khutbah dimulai dibolehkan berbicara walaupun imam sudah duduk di atas mimbar. Begitu juga ketika imam sudah mengakhiri khutbahnya, dibolehkan berbicara sebelum shalat dimulai.


sumber http://www.voa-islam.com

Rabu, 11 April 2012

Ini Pahlawanku


            Udah lama sebenernya ini mau gue posting tapi yaa gue baru sempet posting. gue mau posting tentang pahlawan gue yang ngga bakal bisa gue lupain sampe kapanpun :’) yaaap pahlawan itu adalah bokap gue sendiri, beliau lah yang membuat gue terlahir didunia ini dan merawat gue sampe se-gede ini. Nama bokap gue sendiri Eddy Syuaidy Sy Alie BA
            Minggu kemarin tepatnya tanggal 20-21 januari 2012 gue baca Koran BANTEN POS dan disitu dijelasin tentang perjalanan hidup bokap gue dari awal merintis karir sampe sekarang. Selalu sabar dan menjalani tugas dengan penuh rasa tanggung jawab, itulah yang terpatri di dalam diri bokap gue. Selepas lulus kuliah di UIN Yogyakarta memulai karir PNS pertamanya menjadi jurpen (juru penerangan) atau penyampain program-program pemerintah daerah kepada masyarakat pedesaan. Bokap gue ditugaskan di beberapa kecamatan di Cilegon yang pada saat itu masih merupakan wilayah Kabupaten Serang. Kecamatan Pulomerak adalah salah satu tempat yang pernah didudukinya. Tugas pertama bokap gue terbilang cukup berat, sebab bokap gue harus keluar masuk perkampungan terpencil untuk menyampaikan program pembangunan maupun proram pro rakyat diwilayah tugasnya. Naik dan turun bukit menjadi bagian perjalan bokap gue sebagai jurpen. Medan yang terjal itu dilakukan dengan berjalan kaki puluhan kilometer dan dilakukannya dengan ikhlas sepenuh hati.
            Sebetulnya sebagai jurpen babeh gue menerima sebuah motor dinas dari pemerintah namun motor sebagai penunjang kerjanya itu hanyalah motor tua penyakitan, apalagi saat musim hujan. Tak ayal bokap gue pun kerap kali mendorong motor bututnya karena mogok. “kalau lagi musim hujan, saya harus sering bersihkan busi biar mesin motor hidup. Kalau sudah terlanjur basah ya terpaksa mendorong sampai kantor kecamatan atau kelurahan untuk meminta bantuan” ujar bokap gue. Karena sering dorong-dorong motor bututnya, bokap gue kerap di candai oleh camat atau lurah setempat. Sebab kalau mampir pasti datang dengan membawa motornya yang mogok itu. Meski begitu bokap gue tak patah semangat “semua saya jalani dengan sabar” katanya.
            Hampir 20 tahun menjalankan tugasnya sebagai juru penerangan (jurpen). Dengan kesabarannya pula ia memberikan penjelasan berbagai program kepada masyarakat pelosok Cilegon. 20 tahun tentu bukan waktu yang pendek namun jika dijalani dengan sepenuh hati, 20 tahun tentu bukan apa-apa. Bokap gue menjalani itu semua dengan kesabaran, ia tidak pernah menghitung dan mengharapkan jabatan yang lebih tinggi dari jurpen. Padahal pendidikannya jelas diatas rata-rata karena ia memang seorang sarjana. Dalam benaknya hanya ada satu semangat, kerja keras.
            Gaji yang diterimanya sebagai jurpen kala itu hanya sebesar RP 22,500 per bulan. Jelas angka itu jauh dari cukup terlebih bokap gue harus memenuhi kebutuhan keluarga yang pada saat itu sudah mempunyai istri dan satu anak. Eddy tetaplah Eddy. Ia tak silau dengann jabatan. Ia juga bukan tipe hedonis. Gaji yang diterimanya cukup ia sambut dengan rasa syukur. “Kunci utamanya ikhlas dan sabar, nyatanya sampe sekarang istri dan anak saya masih hidup” candanya.  Kisah pahit tentu tidak selalu menimpanya. Ia medapatkan pengalaman yang cukup berkesan baginya. “Kalau habis tugas, pulangnya saya dibawain oleh-oleh sama warga, mulai dari pisang, kelapa muda, atau buah-buahan lainnya, itu yang membuat saya merasa sangat dihargai sehingga saya betah menjalankan tugas dengan gaji yang sangat kecil itu,” tuturnya. Tak hanya itu, bokap gue juga sering sekali mendapatkan piagam penghargaan sebagai jurpen terbaik. Tak kurang dari 20 piagam penghargaan yang sudah terimanya.
            Sekitar tahun 2000, jabatan jurpen tinggalkan. Tahun itu, bokap ue menjadi staf di Kelurahan Purwakarta, Kecamatan Purwakarta hingga beberapa tahun setelah itu diangkat menjadi Sekertaris Camat (Sekmat). Selanjutnya karir bokap gue terus merayap sampai akhirnya bokap gue dipercayai menjadi Camat Purwakarta. Berkat ketekunan dan kesabaran serta pengalamannya dilapangan, awal 2008 diangkat menjadi Kepala BKD (Badan Kepegawaian dan Diklat) hingga sekaramg.
                                                                                                                   
Dipostingan ini gue bukannya mau menyombongkan diri, ambil aja sisi positifnya dari postingan ini. Saat gue posting tulisan ini bokap gue lagi sakit, mohon doanya aja semoga beliau cepet sembuh, amin o:) terima kasih

(Cilegon, saat hujan turun, 11 April 2012)
Fajar Kurniawan