Kamis, 19 April 2012

Kultum LSP (tidak dibolehkan bicara saat khutbah berlangsung)


Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga terlimpah untuk Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya.
Saat khutbah Jum’at disampaikan, bagi jamaah shalat Jum’at wajib diam mendengarkannya dengan seksama. Barangsiapa berbicara sendiri yang memalingkan dari memperhatikan khutbah maka sia-sialah shalat Jum’at yang dikerjakannya.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallaahu 'anhu, Nabishallallaahu 'alaihi wasallam bersabda,

إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ أَنْصِتْ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَدْ لَغَوْتَ
Apabila engkau berkata kepada saudaramu pada hari Jum’at, ‘diamlah!’ sementara imam sedang berkhutbah, maka sungguh engkau telah berbuat sia-sia.” (HR. Bukhari dan Muslim serta yang lainnya)

Al-Hafidh Ibnu Hajar dalam Fathul Baari berkata, "Dalam hadits ini, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam telah menetapkan bahwa memerintahkan diam saat khutbah adalah bentuklahwun (perbuatan sia-sia), walaupun bentuknya perintah yang ma'ruf dan melarang dari yang munkar. Hadits ini juga menunjukkan bahwa setiap perkataan yang mengganggu dari mendengarkan khutbah, hukumnya lahwun. Dan bila ingin memerintahkan diam orang yang bicara, dengan isyarat."
Beliau menambahkan, “Hadits di atas dijadikan dalil larangan terhadap seluruh macam perkataan pada saat khutbah, dan demikian itu pendapat mayoritas ulama terhadap orang yang mendengarkan khutbah.”

Diriwayatkan dari Abu Darda’ radhiyallaahu 'anhu berkata, “Suatu hari Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam duduk di atas mimbar, lalu beliau berkhutbah di hadapan manusia dan membaca sebuah ayat. Di sampingku ada Ubay. Aku bertanya kepadanya, “Wahai Ubay, kapan ayat ini diturunkan?” Dia tidak mau berbicara kepadaku. Lalu aku bertanya lagi kepadanya, tapi dia tetap tidak mau berbicara kepadaku.

Ketika Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam sudah turun barulah Ubay berkata kepadanya, “Engkau tidak mendapatkan dari Jum’atanmu kecuali kesia-siaan.” Maka ketika Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bertolak, aku (Abu Darda’) mendatanginya, lalu aku beritahukan perihal tadi. Kemudian Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda, “Ubay benar, Apabila engkau mendengar imammu berkhutbah, diamlah engkau sehingga dia selesai.” (HR. Ibnu Majah dan Ahmad dalam al-Musnad no. 21627 dan 21184 yang oleh muhaqqiqnya Al-Zain dinyatakan isnadnya shahih)

Ibnu Abdilbarr rahimahullaah berkata, “Tidak ada perbedaan pendapat di antara fuqaha’ negeri tentang wajibnya diam memperhatikan khutbah bagi orang yang mendengarnya,” (Al-Istidzkar: 5/43). Tetapi setelah itu disebutkan adanya perbedaan pendapat di kalangan sebagian mutaakhirin, namun itu tidak dianggap sebagai perbedaan yang diakui karena menyelisihi nash-nash yang sharih. Sebagaimana yang disebutkan dalam madzhab Syafi’iyah, Inshat (diam mendengarkan khutbah) adalah mustahab dan tidak wajib. Imam Nawawi dalam Al-Majmu’: 4/523 menyebutkan, dalam hukum inshat ini terdapat dua pendapat yang masyhur. Namun yang shahih dalam madzhab ini, bahwa inshat ini mustahab (dianjurkan), tidak wajib. (Al-Majmu’: 4/523)

Terdapat satu riwayat Ahmad dalam al-Mughni (3/194), tidak diharamkan berbicara.
Sedangkan jumhur ulama berpendapat, diharamkan berbicara saat khutbah disampaikan. Dan inshat ketika itu adalah wajib. Sementara madhab Hanafi berpendapat, berbicara saat khutbah makruh tahrim walaupun itu berupa amar ma’ruf, bertasbih, atau yang lainnya. (Al-Bahr al-Raaiq: 2/168)

Dalam kitab al-Mudawwanah disebutkan, “Apabila imam berkhtubah, maka saat itu juga wajib memutus pembicaraan, menghadap kepadanya, dan diam mendengarkannya.” (Mawahib al-Jalil: 2/530)

Jumhur ulama: Diharamkan berbicara saat khutbah disampaikan. Dan inshat (mendengar & mendengarkan khutbah) ketika itu adalah wajib.

Kapan Larangan Berbicara Ini Berlaku?
Sesungguhnya larangan berbicara di sini berlaku pada saat khutbah saja. Karenanya sebelum khutbah dimulai dibolehkan berbicara walaupun imam sudah duduk di atas mimbar. Begitu juga ketika imam sudah mengakhiri khutbahnya, dibolehkan berbicara sebelum shalat dimulai.
Imam Malik meriwayatkan dalam al-Muwatha’, dari Tsa’labah al-Quradzi, mereka pada zaman Umar bin Khathab shalat pada hari Jum’at sehingga Umar keluar. Maka apabila Umar sudah keluar dan duduk di atas mimbar, lalu muadzin mengumandangkan adzan, kami duduk berbincang-bincang. Lalu apabila muadzin diam dan Umar berdiri menyampaikan khutbah, kami semua diam dan tidak seorangpun dari kami yang berbicara.
Ibnu Syihab berkata, “Keluarnya imam memutus shalat, sementara perkataannya memutus perkataan (jama’ah).” (Tanwir al-Hawalik, hal. 125)

Inilah madzhab ‘Atha, Thawus, Bakr al-Muzani, al-Nakha’i, al-Syafi’i, Ishaq, Ya’kub, Muhammad dan juga diriwayatkan dari Ibnu Umar.
Sedangkan berbicara di antara dua khutbah, terdapat dia pendapat. Di dalam al-Mughni disebutkan, al-Hasan al-Bashri membolehkannya. Sementara Malik, al-Syafi’i, al-Auza’i dan Ishaq melarangnya. (Al-Mughni, Ibnu Qudamah: 2/200)

Sebelum khutbah dimulai dibolehkan berbicara walaupun imam sudah duduk di atas mimbar. Begitu juga ketika imam sudah mengakhiri khutbahnya, dibolehkan berbicara sebelum shalat dimulai.


sumber http://www.voa-islam.com

Rabu, 11 April 2012

Ini Pahlawanku


            Udah lama sebenernya ini mau gue posting tapi yaa gue baru sempet posting. gue mau posting tentang pahlawan gue yang ngga bakal bisa gue lupain sampe kapanpun :’) yaaap pahlawan itu adalah bokap gue sendiri, beliau lah yang membuat gue terlahir didunia ini dan merawat gue sampe se-gede ini. Nama bokap gue sendiri Eddy Syuaidy Sy Alie BA
            Minggu kemarin tepatnya tanggal 20-21 januari 2012 gue baca Koran BANTEN POS dan disitu dijelasin tentang perjalanan hidup bokap gue dari awal merintis karir sampe sekarang. Selalu sabar dan menjalani tugas dengan penuh rasa tanggung jawab, itulah yang terpatri di dalam diri bokap gue. Selepas lulus kuliah di UIN Yogyakarta memulai karir PNS pertamanya menjadi jurpen (juru penerangan) atau penyampain program-program pemerintah daerah kepada masyarakat pedesaan. Bokap gue ditugaskan di beberapa kecamatan di Cilegon yang pada saat itu masih merupakan wilayah Kabupaten Serang. Kecamatan Pulomerak adalah salah satu tempat yang pernah didudukinya. Tugas pertama bokap gue terbilang cukup berat, sebab bokap gue harus keluar masuk perkampungan terpencil untuk menyampaikan program pembangunan maupun proram pro rakyat diwilayah tugasnya. Naik dan turun bukit menjadi bagian perjalan bokap gue sebagai jurpen. Medan yang terjal itu dilakukan dengan berjalan kaki puluhan kilometer dan dilakukannya dengan ikhlas sepenuh hati.
            Sebetulnya sebagai jurpen babeh gue menerima sebuah motor dinas dari pemerintah namun motor sebagai penunjang kerjanya itu hanyalah motor tua penyakitan, apalagi saat musim hujan. Tak ayal bokap gue pun kerap kali mendorong motor bututnya karena mogok. “kalau lagi musim hujan, saya harus sering bersihkan busi biar mesin motor hidup. Kalau sudah terlanjur basah ya terpaksa mendorong sampai kantor kecamatan atau kelurahan untuk meminta bantuan” ujar bokap gue. Karena sering dorong-dorong motor bututnya, bokap gue kerap di candai oleh camat atau lurah setempat. Sebab kalau mampir pasti datang dengan membawa motornya yang mogok itu. Meski begitu bokap gue tak patah semangat “semua saya jalani dengan sabar” katanya.
            Hampir 20 tahun menjalankan tugasnya sebagai juru penerangan (jurpen). Dengan kesabarannya pula ia memberikan penjelasan berbagai program kepada masyarakat pelosok Cilegon. 20 tahun tentu bukan waktu yang pendek namun jika dijalani dengan sepenuh hati, 20 tahun tentu bukan apa-apa. Bokap gue menjalani itu semua dengan kesabaran, ia tidak pernah menghitung dan mengharapkan jabatan yang lebih tinggi dari jurpen. Padahal pendidikannya jelas diatas rata-rata karena ia memang seorang sarjana. Dalam benaknya hanya ada satu semangat, kerja keras.
            Gaji yang diterimanya sebagai jurpen kala itu hanya sebesar RP 22,500 per bulan. Jelas angka itu jauh dari cukup terlebih bokap gue harus memenuhi kebutuhan keluarga yang pada saat itu sudah mempunyai istri dan satu anak. Eddy tetaplah Eddy. Ia tak silau dengann jabatan. Ia juga bukan tipe hedonis. Gaji yang diterimanya cukup ia sambut dengan rasa syukur. “Kunci utamanya ikhlas dan sabar, nyatanya sampe sekarang istri dan anak saya masih hidup” candanya.  Kisah pahit tentu tidak selalu menimpanya. Ia medapatkan pengalaman yang cukup berkesan baginya. “Kalau habis tugas, pulangnya saya dibawain oleh-oleh sama warga, mulai dari pisang, kelapa muda, atau buah-buahan lainnya, itu yang membuat saya merasa sangat dihargai sehingga saya betah menjalankan tugas dengan gaji yang sangat kecil itu,” tuturnya. Tak hanya itu, bokap gue juga sering sekali mendapatkan piagam penghargaan sebagai jurpen terbaik. Tak kurang dari 20 piagam penghargaan yang sudah terimanya.
            Sekitar tahun 2000, jabatan jurpen tinggalkan. Tahun itu, bokap ue menjadi staf di Kelurahan Purwakarta, Kecamatan Purwakarta hingga beberapa tahun setelah itu diangkat menjadi Sekertaris Camat (Sekmat). Selanjutnya karir bokap gue terus merayap sampai akhirnya bokap gue dipercayai menjadi Camat Purwakarta. Berkat ketekunan dan kesabaran serta pengalamannya dilapangan, awal 2008 diangkat menjadi Kepala BKD (Badan Kepegawaian dan Diklat) hingga sekaramg.
                                                                                                                   
Dipostingan ini gue bukannya mau menyombongkan diri, ambil aja sisi positifnya dari postingan ini. Saat gue posting tulisan ini bokap gue lagi sakit, mohon doanya aja semoga beliau cepet sembuh, amin o:) terima kasih

(Cilegon, saat hujan turun, 11 April 2012)
Fajar Kurniawan

Selasa, 10 April 2012

Aku Ingin

aku ingin buta
kenapa ?
karena yang aku lihat hanyalah sandiwara

aku ingin bisu
kenapa ?
karena yang aku ucapkan tak lagi didengar

aku ingin tuli
kenapa ?
karena yang aku dengar hanyalah omong kosong

aku ingin diam
kenapa ?
karena setiap usahaku percuma siasia tak dianggap

aku ingin tetap menulis
kenapa ?
karena dengan menulis aku lebih hidup


(cilegon, saat matahari terik,10 April 2012)
Fajar Kurniawan 

Senin, 09 April 2012

Detik Akhir Hidupku

Cipt. Novia Fitriani
saat ini aku letih, letih menatap hidup
saat ini aku geram, geram melihat kenyataan
saat ini aku sakit, sakit melihat mu pergi
dan saat ini aku hanya terdiam bisu melihatmu pergi meninggalkanku dengan senyum kebohonganmu
aku yang hanya terus menunggumu dan menunggumu
aku tak mampu berjalan sendiri tanpamu
aku ini seperti lumpuh yang hanya mampu terdiam menunggumu yang entah kapan akan kembali padaku
aku seperti buta tak dapat melihat siapapun terkecuali bayang-bayangmu yang telah tiada
aku seperti benar-benar buta hingga aku tak mampu melihat jalan yang seharusnya terus aku lewatin meski sendiri tanpamu
seperti dia yang terus melanjutkan jalan hidupnya meski tanpa aku
aku seperti cacat yang tak mampu berdiri ketika aku terjatuh
tak mampu mendengar ketika orang lain berkata cinta padaku
tak mampu menggenggam tangan mereka ketika mereka menggenggam tanganku
aku seperti tak mampu melanjutkan hidupku
ketika aku rapuh dan jatuh, itulah detik akhir hidupku

Rabu, 04 April 2012

percakapanku dengan ibu

aku masih kecil, umurku baru 5 tahun. aku masih lugu, polos dan tak mengenal apa itu artinya cinta tak seperti kalian yang sudah hafal betul apa itu cinta. apasih arti cinta itu ? bagaimana wujud cinta itu ? pertanyaan itu selalu saja muncul dipikiranku, aku tahu aku memang masih kecil, tapi apakah salah untuk mengetahui apa arti cinta itu ? apakah itu dilarang mengetahuinya jika aku masih kecil ? yaa aku adalah seorang anak kecil yang keingintahuannya tinggi.
*****

diruang tv terlihat sosok wanita berparas sederhana, dia adalah ibuku. ibuku yang telah mengandung aku didalam perutnya selama sembilan bulan dan membesarkan aku sampai sekarang. aku berjalan pelan menghampirinya, aku ingin menanyakan semua yang ada dipikiranku tetang apa itu cinta. setibanya aku langsung duduk disebelah ibuku.


"bu, boleh aku bertanya?" aku bertanya dengan rasa takut
"boleh ko nak selama ibu masih bisa menjawabnya" ibu menjawab dengan suara lembutnya sembari memegang kepalaku.
"apa arti cinta bu?'
dada ibuku terasa naik seakan dia kaget dengan apa yang ku tanyakan tadi "cinta itu adalah anugerah yang terindah yang diberikan tuhan nak"
"sesingkat itukah arti cinta bu ?" ucapku dengan raut ajah penasaran
"cinta itu perasaan, ada namun kita tak bisa menyentuhnya tetapi bisa merasakannya. cinta itu saling, saling memahami, menyayangi, membutuhkan tetapi bukan untuk saling menyakiti. cinta itu adalah sesuatu yang murni, putih, tulus dan suci yang timbul tanpa adanya paksaan"
"bu, apakah cinta itu tak harus memiliki ?"
"menurut ibu, cinta itu harus memiliki. banyak yang bilang bahwa cinta itu tak harus memiliki itu namanya salah besar. jika kamu menginginkan seseorang, teruslah berusaha untuk mendapatkannya dan jangan pernah putus asa, dan jika semua usaha telah dilakukan untuk mendapatkannya tetap saja belum berhasil sadarlah bahwa dia bukanlah cinta kamu"
"bu, apakah cinta itu bener bener buta?"
"iyaa cinta itu "buta". buta disini adalah cinta itu bisa datang kesiapa pun. tak mengenal umur, jabatan atau apalah itu. seperti halnya ibu mencintaimu nak"
"jadi seperti itu yaa cinta itu bu, ini ada bunga yang tadi aku petik ditaman buat ibu karna aku juga mencintaimu"
tiba-tiba saja ibu langsung memelukku erat, butiran-butiran berlian mulai keluar dari mata indahnya
dengan kepolosanku, aku pun bertanya "ibu kenapa menangis ?"
"ibu terharu nak dengan sikap kamu, umurmu masih 5 tahun tapi sikapmu jauh dari umurmu itu nak" ibu menjawab sembari menghapus berlian yang mulai membasahi pipinya
"sudahlah bu tak usah menangis, berlian itu terlalu berharga untuk ibu keluarkan"
"iyaa nak, ibu titip pesan ke kamu. jika kamu besar nanti, cintailah hanya satu sosok wanita dan jangan pernah untuk menyakitinya. jika kamu menyakiti wanita itu sama saja kamu menyakiti ibu kamu sendiri nak"
"iyaa bu, aku mengerti. aku janji tidak akan menyakiti wanita karena aku tak ingin menyakiti ibu. terima kasih bu telah menjelaskan apa arti cinta. aku sayang banget sama ibu"
"ibu pun sayang banget denganmu nak"



Selasa, 03 April 2012

inilah semuanya

ini dalah tulisan untuk menjawab blog dari Rianda Rizky Permata

semua itu tergantung pada diri kita dan kondisi kita. apakah mungkin hanya karena alasan menjaga perasaan sekitar kita, kita tak bisa memenuhi keinginan kita. apakah mereka akan memikirkan perasaan kita jika mereka berada di posisi kita ? yaap, semua jawabannya hanya ada pada diri kita masing masing. aku akan memberikan contoh untuk kau renungkan tentang apa yang kau tanyakan. ketika bertanding pada partai final bulutangkis, difinal itu kau berhadapan dengan sahabat kau sendiri, sahabat yang selalu ada ketika kita senang, sedih, bahagia. sahabat yang selalu berlatih bersama. apakah kau akan menangkis keinginan kamu untuk menjadi juara hanya untuk menjaga perasaan dia ? kita itu harus egois, kita harus munafik untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. bukannkah kau pernah menulis bahwa "manusia yang notabene adalah sang ego"

menulis itu adalah sebuah jawaban dari semua perasaan. bukankah kau pernah bilang kalau menulis itu dari hati ? memang semua ini ada sesuatu yang aneh pada diri kita. keanehan itu aku sebut bisu ! ketika semua ucapan tak lagi bisa didengar, ketika semua ucapan hanyalah omong kosong. tulisanlah yang mampu menjawab semuanya .

tentu saja ada yang harus kita perbaiki, menangis itu bukan sebuah kebutuhan. definisi kebutuhan sendiri adalah salah satu aspek psikologis yang menggerakan mahluk hidup dalam aktifitas-aktifitasnya dan menjadi dasar (alasan) berusaha. apakah kau menganggap menangis itu adalah usaha ? usaha untuk apa ? untuk menyesalinya ? terlalu berharga jika menangis itu adalah usaha untuk menyesalinya..

tidak perlu diubah ? haha jika itu tak perlu diubah kita tak jauh beda dengan patung, berdiam dan menunggu. bukankah jika semua menyakitkan kita harus menyembuhkannya ? buaknkah tuhan lebih senang melihat hambaNya berusaha daripada berdiam dan menunggu ? ubahlah semua itu ~

TIDAK ! aku rasa itu tidak, manusia sampai kapanpun tak akan bisa terbang kecuali ia memakai alat bantu.

yaa tentu saja ada. ketika mulut, hati dan pikiran tak bisa lagi sejalan


dan semua pertanyaa itu... punya jawaban !